PROFIL DESA

1.   Deskripsi Wilayah Desa
Desa Sepawon merupakan desa yang terletak dikawasan lereng gunung kelud yang berjarak kurang lebih 5km dari puncak gunung, di kecamatan Plosoklaten, kabupaten Kediri.Desa ini memiliki 5 dusun yaitu, Petungombo, Ngrangkah, Sepawon, Badek, Gatok. Secara geografis desa Sepawon merupakan desa yang terletak diujung timur kabupaten Kediri yang berbatasan dengan wilayah kabupaten Malang. Pada bagian utara desa berbatasan langsung dengan wilayah desa Satak, kecamatan Puncu yang disekat oleh sungai aliran lahar dari gunung Kelud. Pada sebelah selatan desa berbatasan dengan wilayah desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar yang disekat oleh aliran sungai lahar kelud juga.Pada bagian barat desa berbatasan dengan wilayah dusun Pulerejo, desa Wonorejo Trisulo, kecamatan Plosoklaten yang batasnya ditandai dengan portal pintu masuk kawasan PTPN XII.
Luas wilayah desa Sepawon sendiri yaitu, 2.719,18Ha yang masing-masing terdiri dari perkebunan, tegalan, pekarangan. Dari keseluruhan wilayah dari desa tersebut hampir luas wilayah didominasi tanah HGU dari PTPN XII Ngrangkah Pawon seluas 2.565,18Ha dan menyisakan tanah hak milik warga desa seluas 154Ha. Masing-masing dukuhan atau dusun  dari desa Sepawon sendiri memiliki jarak yang relatif jauh. Pusat administrasi pemerintahan desa sendiri  berpusat di dusun Petungombo. Dengan perbandingan tanah yang dimiliki oleh warga desa dengan PTPN dapat menjadi permasalahan dar tingkat kepadatan dan pendapatan warga seperti yang tertera pada data tabel berikut:


TINGKAT KEPADATAN DAN PENDAPAT PENDUDUK DESA SEPAWON
·       Luas Wilayah                                                 : 2.719,18 Ha
·       Jumlah penduduk                                           : 5.701 Jiwa
·       Jumlah laki-laki                                             : 2.894
·       Jumlah Perempuan                                         : 2.807
·       Jumlah Kepala Keluarga                                : 1754
·       Jumlah RT                                                      : 42
·       Jumlah RW                                                     : 5
·       Pendapatan rata-rata masyarakat per-bulan  : Rp 800.000
Sumber: Data Pemerintah Desa Sepawon.

2.    Sumber Daya Manusia
Desa Sepawon memiliki  sumber daya manusia yang memiliki angkatan usia diatas 17 tahun kurang lebih sekitar 4.589 jiwa diketahui dari (data: DPT Pilkades desember 2016) usia tersebut termasuk lansia sedangkan usia yang dibawah 17 tahun sendiri terdapat sejumlah 1.112 jiwa, jadi total dari seluruh penduduk 5.071 jiwa. Dengan demikian, bisa dilihat jumlah potensial masyarakat yang produktif dari usia produktif tersebut dapat menjadi sebuah potensi sosial dalam desa sepawon.
Mata pencaharian masyarakat di desa Sepawon didominasi oleh pertanian/perkebunan. Namun terdapat berbagai mata pencaharian lain dalam jumlah yang sedikit. Daftar mata pencaharian masyarakat desa Sepawon dapat dilihat dalam tabel berikut ini:


NO
MATA PENCAHARIAN
JUMLAH ORANG
PRESENTASE (%)
1
Petani/Buruh Tani/ Kebun
1949

2
Home industri
-

3
Sopir
134

4
Pekerja Tambang pasir / batu
22

5
Pengusaha/ pedagang wirausaha
167

6
TKI/TKW
83

7
Tukang batu/kayu
19

8
Pegawai Negeri Sipil
11

9
TNI/Polri
7

10
Pensiunan
131

11
Lain-lain/MRT
2156

             Sumber: Data Pemerintah Desa Sepawon.
Di desa ini kurang tersedia lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja baru. Pendanaan desa ini bersumber dari Alokasi Dana Desa (ADD), Pajak dan Retribusi Desa, Bantuan Sosial, Dana Pemerintah Pusat dan Swadaya Masyarakat. Kompetensi sumber daya manusia di desa Sepawon belum dapat memenuhi harapan, karena melihat jumlah angkatan kerja banyak didominasi disektor pertanian yang berjumlah 1949 namun, banyak didominasi buruh tani atau bahkan pekerja kebun dari PTPN serta banyaknya yang bekerja sebagai pekerja migran rumah tangga (MRT) baik yang bekerja di dalam maupun luar negeri.
Di samping pertanian, masyarakat pada umumnya juga beternak.Adapun yang diternakkan masyarakat pada umumnya adalah beternak kambing, dan sapi terdapat dalam jumlah yang sedikit.Sarana tempat usaha di desa Sepawon yang bisa dijumpai adalah oleh toko dan kios buah.Desa ini belum memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga kepemilikan usaha baru hanya sebatas UKM yang dikelola oleh masyarakat dan membutuhkan pelatihan dan bantuan modal untuk memperluas bisnisnya.Masyarakat mendirikan UKM dengan modal seadanya dan tekad sendiri.Gerakan PNPM juga sudah mulai jarang terlihat. Di desa ini juga akan dirintis kembali KOPWAN atau koperasi wanita yang dikeloloa oleh ibu-ibu PKK yang hampir  vacum hampir kurang lebih selama 3 tahun.
Desa Sepawon memiliki mayoritas masyarakat yang beragama Islam. Berdasarkan pengamatan kami, aktivitas keagamaan islam di desa Sepawon cukup minim. Hal ini terlihat dari jamaah sholat yang sedikit, bahkan saat Sholat Magrib, minimnya warga yang menghadiri pembacaan yasin malam jum'at dan tahlil hari minggu.Hal ini terjadi karena menurut pengamatan kami, hampir seluruh pria dewasa maupun remaja bekerja di saat siang hingga sore hari.Sehingga membuat mereka kelelahan dan tidak beribadah di Masjid.Menurut pernyatan warga di dusun Petungombo, warga desa Sepawon lebih sering beribadah di rumah dibandingkan di Masjid.Meskipun demikian, kegiatan-kegiatan yang diadakan masjid besar, seperti pengajian tetap ramai dihadiri oleh jamaah.
Sedangkan untuk aktivitas dari agama lain seperti Katolik, Kristen, Hindu juga dapat dikatakan aktif dalam mleaksanakan kegiatan keagamaan yang bertempat di tempat ibadah seperti Greja maupun Pura. Bahkan tidak jarang dari agama yang bisa dikatakan minoritas yang ada di desa Sepawon dapat melaksanakan kegiatan sosial seperti pengobatan gratis pembagian sembako yang diadakan oleh jemaat gereja,  sedangkan bagi masyarakat agama hindu biasannya melakukan ritual ruat bumiyang diadakan di sumber mata air desa yang diadakan satu tahun seakali yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat selain untuk ritual masyarakat hindu tersebut juga mengatakan bahwa kegiatan keagamaan mereka tersebut juga menjadi upaya untuk mempersatukan warga untuk senantiasa melibatkan masyarakat untuk merawat alam.
Toleransi dalam kehidupan antara umat beragama di desa sepawon sangatlah kuat dapat diketahui ketika hari raya idul fitri warga selain islam akan mengunjungi rumah warga yang beragama islam untuk bersilahturahmi atau yang disebut nglencer. Nglencer sendiri tidak dilakukan saat hari raya idul fitri saja melainkan saat tahun baru, perayaan natal, serta sehari pasca nyepi perayaan hari raya umat hindu. Hal tersebut bukan serta-merta mencampuradukan agama akan tetapi hal tersebut merupakan salah satu wujud toleransi umat beragama yang ada di desa Sepawon, ujar perangkat desa pak Rahmad Sudrajat. Adapun data jumlah pemeluk agama sebagai berikut:
NO
AGAMA
JUMLAH ORANG
1
ISLAM
4114
2
KRISTEN/KATOLIK
877
3
HINDU
80
4
BUDHA
-
5
LAIN-LAIN
-
        Sumber: Data Pemerintah Desa Sepawon.
Warga desa Sepawon memkiliki solidaritas yang kuat dengan bukti adannya setiap dua minggu sekali warga dijadwalkan untuk kerja bakti setiap RT mendapat giliran secara berkala setiap dukuhan atau dusun mempunyai agenda dalam melakukan kerja bakti yang diarahkan langsung oleh perangkat desa yang ada disetiap dusun seperti jogoboyo, polokampung, atau kamituwo penyebutan perangkat desa dalam istilah jawa. Kegiatan seperti kerja bakti ini dilakukan biasanya dimaksudkan untuk merawat segala infrastruktur yang ada di desa seperti merawat jalan seperti membuat selokan sementara atau jlondangan di jalan yang belum ada selokannya, sampai membersihkan sumber mata air.
Budaya semacam ini terbangun akibat dari interaksi yang terjadi secara intensif dalam keseharian warga hal ini dalam ilmu sosiologi sering disebut ciri dari masyarakat Gemeinschaft.Jika dihubungkan lagi dengan pengembangan masyarakat hal ini merupakan social capitalatau modal sosial yang ada dalam masyarakat. Namun, solidaritas masyarakat desa Sepawon sendiri belum terbentuk sebuah persatuan kolektif akan tetapi semangat solidaritasnya hanya sebatas solidaritas warga dukuhan atau dusun  hal ini bisa diteamukan pada komunitas pemudanya seperti Arpeto yang ada di dusun Petungombo dan Bale Ngrangkah yang ada di dusun Ngrangkah. Hal ini terjadi akibat kurang adannya wadah yang tepat untuk menyalurkan aspirasi bagi pemuda karena, lembaga desa seperti Karang Taruna yang ada di desa tidak aktif.
3.    Sumber Daya Alam
Dilihat dari segi topografi desa Sepawon memiliki ketinggian tanah sekitar 640-850 Mdpl, yang memiliki kontur landai, berbukit, bergelombang, dan bergunung sehingga tanaman yang sangat cocok di daerah ini adalah tanaman keras seperti cengkih, kopi, kakao dan karet. Akan tetapi dari keseluruhan luas lahan yang dimiliki desa Sepawon 2.719,18 Ha hanya sekitar 0.25% lahan yang menjadi hak milik warga yang mayoritas diolah menjadi lahan pertanian yang diolah dan ditanami seperti cengkih, kopi, nanas, singkong, pisang dan lain-lain.Data dalam sumber daya alam belum terpetakan secara mendetail karena belum ada survey yang dilakukan oleh dinas pertanian ataupun pihak desa untuk melakukan pemetaan potensi sumber daya alam. Adapun sumber daya alam yang memiliki potensi seperti kegiatan warga yang memelihara ternak seperti kambing, sapi, ataupun ternak ayam yang notabenenya hampir setiap rumah memiliki dan di swakelola perKK yang memiliki ternak itu sendiri.

4.   Sarana Prasarana Penunjang
Sarana infrastruktur dan fasilitas penunjang yang ada di desa antara lain adalah sarana seperti jalan aspal, tandon air, lampu penerangan desa polides yang terletak di dusun Petungombo, fasilitas penunjang pendidikan, serta tempat peribadahan. Adapun data fasilitas desa:
-        Tempat Ibadah
 NO

TEMPAT IBADAH

JUMLAH
1
MASJID
6
2
MUSHOLA
4
3
GEREJA
5
4
PURA
1

-        Sarana Air Bersih
NO
JENIS SARANA
JUMLAH (%)
1
Air PDAM
-
2
Air sumur bor
8%
3
Air sumur biasa
-
4
Air sumber
22%






-        Faslitas kesehatan tenaga Medis
NO
NAMA PETUGAS
JUMLAH (ORANG)
1
Dokter Spesialis
-
2
Dokter Umum
-
3
Bidan
1
4
Perawat
1
5
Dukun Bayi terdidik
-
6
Dukun Bayi
-
7
Pengobatan Alternatif
-

-        Fasilitas Pendidikan
NO
JENIS SEKOLAH
JUMLAH UNIT
1
Sekolah Taman Kanak Kanak
4
2
SD/MI
4
3
SMP/MTS
-
4
SMA/MA
-

-        Sarana Penerangan
NO
SARANA PENERANGAN
PRESENTASE(%)
1
Menggunakan PLN
100%
2
Menggunakan Non PLN
-
3
Lain-lain
-
       Sumber: Data Pemerintah Desa Sepawon.

 Adapun Analisis SWOT terkait untuk mengetahui tentang apa saja yang perlu dilakukan sebuah langkah upaya untuk dilaksanakannya advokasi sosial pada yang  desa Sepawon yaitu:

·       Strenght (S)
Yaitu analisis kekuatan, situasi ataupun kondisi yang merupakan kekuatan dari suatu organisasi, perusahaan atupun wilayah.
Desa Sepawon kecamatan Plosoklaten yang memiliki luas wilayah 2.719,18 Hayang potensial digunakan untuk lahan perkebunan. Dilihat dari potensi sumber daya alam yang ada di desa Sepawon maka inovasi bercocok tanam sangat bagus untuk dilakukan. Selain itu banyaknya usia angkatan produktif yang banyak merupakan suatu hal yang potensial dari sumber daya manusianya maka perlu adanya semacam bentuk pelatihan keterampilan megolah modal dan mengembangkan usaha  agar lebih produktif secara ekonomi.
Kekuatan dari modal sosial sendiri ditemukan pada sebuah pola interaksi masyarakat yang memiliki kesadaran untuk melakukan gotong royong untuk saling menjaga satu dengan yang lain kemudian dari kesadaran memiliki fsilitas yang ada di desa serta menjaga sumber daya alam yang ada.

·       Weakness (W)
Yaitu  analisis kelemahan, situasi ataupun kondisi yang merupakan kelemahan dari suatu organisasi, perusahaan ataupun wilayah.
Dari segi kelemahan sendri desa Sepawon memiliki kesulitan untuk mengakses potensi lus wilayah bentang alam secara tipografi hal ini disebabkan oleh karena hampir 99% lahan merupakan aset dari PTPN dari  segi kepemilikan aset kepemilikan tanah hanya segelitir warga memiliki aset tersebut karena mempunyai hak kepmilikan. Dari segi yang lain adalah dari ksadaran kolektif antar warga juga menjadi hambatan karena adanya komunitas pemuda antar warga dusun yang tidak diwadahi secara khusus oleh lembaga desa seperti karang taruna untuk menampung aspirasi pemuda maupun warga secara kolektif. Pengorganisasian yang sulit menjadi kendala utama untuk melaksanakan program-program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena di dusun sepawon letak geografisnya sangat luas dan jarak antar dusun yang jauh sehingga untuk memobilisasi serta mengakomodir antar warga cukup menyulitkan.

·       Opportunity (O)
Yaitu analisis peluang, situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar suatu organisasi, perusahaan ataupun wilayah dan memberikan peluang untuk berkembang.
Melihat peluang SDA dan SDM  di Dusun Sepawon maka memunculkan peluang pengembangan masyarakat untuk lebih menguatkan solidritas warga desa secara kolektif sebagai penguat moadal sosial sebagai peluang untuk meningkatkan taraf hidup mereka maupun memberikan wawasan inovasi berwirausaha sehingga menimbulkan lapangan pekerjaan baru di Dusun Sepawon serta membuat kelompok ternak terpadu untuk membuat atau membuka sentra peternakan warga desa secara kolektif agar dapat membuat potensi sumber daya alam semakin jelas bahwa warga desa sepawon memiliki sumber daya yang unggul untuk dikembangkan secara optimal.

·       Threats (T)
Yaitu analisis ancaman, cara menganalisis tantangan atau ancaman yang harus dihadapi oleh suatu organisasi, perusahaan ataupun wilayah untuk menghadapi berbagai macam faktor lingkungan yang tidak menguntungkan dan dapat menyebabkan kemunduran.

Untuk di dusun Sepawon tantangan terbesarnya adalah dari segi budaya masyarakatnya yang cenderung sulit untuk mendapatkan akses informasi baru, solidaritas warga yang kurang kolektif akan berdampak pada kemunduran tingkat kepecayaan antar warga desa sehingga menyebabkan terjadi terpeta-petakan dari kondisi sosial desa yang menyebabkan kemunduran dari potensi sosial yang dimiliki warga desa Sepawon itu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog